Translate

Tampilkan postingan dengan label Tips Guru Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Guru Sukses. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

Kunci Sukses Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual

Suatu hari dalam perbincangan tentang pelaksanaan pembelajaran kontekstual, seorang guru menyampaikan bahwa dirinya merasa mengalami kesulitan ketika mempraktikkan pembelajaran kontekstual di kelasnya. “Pada materi tertentu kita memang bisa melaksanakan pembelajaran kontekstual, tetapi pada materi lain TIDAK BISA,” kata guru tersebut.
Mendengar perbincangan dengan tema “Pembelajaran Kontekstual” tersebut saya tertarik, dan ikut bergabung di dalamnya. Beragam argumen bermunculan dalam perbincangan tentang pembelajaran kontekstual itu, baik yang pro maupun kontra. Yang pro tentunya berusaha untuk menjelaskan bagaimana sebuah materi pelajaran bisa disajikan dengan pembel;ajaran kontekstual. Yang kontra juga berusaha untuk menjelaskan bahwa sebuah materi pembelajaran sulit disajikan dengan pembelajaran kontekstual.
Apa pendapat Anda tentang pembelajaran kontekstual? Anda termasuk yang pro atau yang kontra? Bagaimana dengan ilustrasi pembelajaran kontekstual berikut:  “Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.  Pendekatan pembelajaran kontekstual dalam kelas cukup mudah”?
Sesungguhnyalah, filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham progressivisme John Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat dalam proses belajar di sekolah.
Selain teori progressivisme, teori lain yang juga melatarbelakangi filosofi pembelajaran kontekstual adalah teori kognitif. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Siswa menunjukkan belajar dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan. Belajar dipendang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk membangkitkan ide-ide yang masih laten melalui kegiatan introspeksi.
Atas dasar pemikiran di atas, maka dua hal penting yang harus diingat agar berhasil dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual adalah: (1) pelajaran harus berhubungan dengan pengalaman siswa, dan (2) siswa harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran, termasuk mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Bagaimana guru merancang skenario pembelajaran kontekstual agar siswa berhasil? Inilah tugas yang harus dilakukan guru. So, be creative! Kreativitas guru adalah kunci bagi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran kontekstual ini

Cara Atasi Siswa Yang Ribut

Dalam konsep pembelajaran quantum kita mengenal prinsip bahwa semuanya bertujuan. Ini berarti bahwa dalam proses pembelajaran harus diupayakan agar semuanya bertujuan bagi terselenggaranya pembelajaran yang efektif, baik yang terkait dengan komunikasi maupun benda-benda di kelas.
Siswa ribut biasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru. Atau, ada sesuatu yang lebih menarik bagi siswa dibanding proses pembelajaran. Itu sebabnya, maka hal yang membuat siswa lebih tertarik itu harus didayagunakan untuk mendukung proses pembelajaran.
Guru harus mampu membaca suasana hati siswa ketika mengajar, kemudian menyesuaikan aktivitas pembelajaran dengan suasana hati siswa. Ini penting, agar proses pembelajaran berlangsung mulus.
Idealnya, guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan suasana hati setiap siswa di kelas. Namun ini agaknya tidak mungkin. Oleh karena itu cukuplah jika guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan suasana hati sebagian besar siswa di kelas.
Bagaimana caranya? Pertama, masukilah dunia siswa. Guru dapat memasuki dunia siswa dalam pembelajaran melalui pertanyaan pancingan yang mengarah pada sesuatu yang sedang menjadi topik perbincangan siswa. Atau, guru mencermati apa yang sedang menarik perhatian siswa, kemudian membicarakan sesuatu yang menarik dari apa yang diperhatikan siswa tersebut. Sebentar saja. Tujuannya adalah untuk membawa siswa kepada pelajaran.
Selanjutnya, cari hubungkan apa yang diperbincangkan tadi dengan materi pelajaran, sehingga siswa memberikan perhatian kepada pelajaran. Jangan dipaksakan! Jika sebentar saja perhatian siswa kembali ke hal di luar pelajaran, maka berarti pelajaran hari itu memang tidak menarik bagi siswa.
Dalam situasi seperti ini guru harus cerdas dan kreatif untuk mengubah pelajaran yang tidak menarik itu menjadi menarik bagi siswa. Temukan, apakah karena metode yang tidak tepat, materi yang terlalu sulit, komunikasi yang monoton tidak menginspirasi, atau karena tidak digunakannya media pembelajaran yang sesuai.
Apabila sudah ditemukan penyebab tidak menariknya pelajaran bagi siswa (kalah menarik dibandingkan dengan situasi di luar kelas), maka segera temukan solusinya, dan terapkan dalam pembelajaran. Anda akan menemukan bahwa sebenarnya tidak sulit mengelola situasi di kelas agar fokus pada pembelajaran ketika kita memang sudah mencintai pekerjaan kita, mencintai murid-murid kita, dan berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan dan keberhasilan murid-murid kita.